Jumat, 11 Juli 2014
NASEHAT SYEIKH ABDUL QODIR AL-JILANY
TENTANG NI'MAT DAN BALA
Bismillahirrohmaanirrohim..
Berkata Syeikh Abdul Qodir jika kamu terkena cobaan maka janganlah kamu menginginkan keni'matan dan janganlah kamu mdnghindari dari cobaan tersebut, kerna satu keni'matan pasti nanti akan datang juga kepadau sesuai dgn ketentuan Allah baik yg kamu harapkan maupun tidak. Begitulah juga cobaan, pasti akan menimpamu walaupun kamu tidak menyukainya. Oleh kerna itu berserah dirilah dalam segala urusan hanya kepada Allah sang Maha Pengatur sekalian Alam sesuai dengan kehendaknya. Apabila keni'matan menghampirimu maka sibuklah dengan kesabaran dan kesadaran. Apabila kamu menginginkan tempat yang tinggi disisi Allah maka jika kamu ditimpakan bala hendaklah kamu rela dan merasa ikhlas. Dan ketahuilah bahwasanya cobaan yg menimpa orang mu'min itu bukanlah untuk menghancurkannya melainkan untuk menguji keimanannya..
Wallahu A'lam.
Kamis, 01 Mei 2014
Bulan Rajab Bulan Mulia
Diantara bulan-bulan Hijriyah yang dimuliakn Allah Swt ialah bulan rajab, Bulan Rajab juga termasuk diantara Asyhurul hurum, yaitu bulan yang Allah Haramkan berperang pada bulan itu,
kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak.
Allah Ta’ala berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁَﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗُﺤِﻠُّﻮﺍ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﺎ ﺍﻟﺸَّﻬْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺮَﺍﻡَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan
melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS.
Al Maidah (95): 2)
Ayat mulia ini menerangkan secara khusus
keutamaan bulan-bulan haram, yang tidak dimiliki
oleh bulan lainnya. Bulan yang termasuk Asyhurul
hurum (bulan-bulan haram) adalah dzul qa’dah,
dzul hijjah, rajab, dan muharam. (Sunan At Tirmidzi
No. 1512)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﺛﻨﺎ ﻋﺸﺮ ﺷﻬﺮﺍً، ﻣﻨﻬﺎ ﺃﺭﺑﻌﺔٌ ﺣﺮﻡٌ : ﺛﻼﺙٌ ﻣﺘﻮﺍﻟﻴﺎﺕٌ ﺫﻭ
ﺍﻟﻘﻌﺪﺓ، ﻭﺫﻭ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻭﺍﻟﻤﺤﺮﻡ، ﻭﺭﺟﺐ ﻣﻀﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﺑﻴﻦ
ﺟﻤﺎﺩﻯ ﻭﺷﻌﺒﺎﻥ ”.
“Setahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4
bulan haram: tiga yang awal adalah Dzul Qa’dah,
Dzul Hijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang
penuh kemuliaan antara dua jumadil dan
sya’ban.” (HR. Bukhari No. 3025)
Dinamakan Rajab karena itu adalah bulan untuk
yarjubu, yakni Ya’zhumu (mengagungkan),
sebagaimana dikatakan Al Ashmu’i, Al Mufadhdhal,
dan Al Farra’. (Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Ma’arif,
Hal. 117. Mawqi’ Ruh Al Islam)
Banyak diantara kita yang meyakini bulan Rajab sebagai
bulan untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat,
puasa, dan menyembelih hewan untuk
disedekahkan. Tetapi, kebiasaan ini nampaknya
tidak didukung oleh sumber yang shahih. Para
ulama hadits telah melakukan penelitian mendalam,
bahwa tidak satu pun riwayat shahih yang
menyebutkan keutamaan shalat khusus, puasa, dan
ibadah lainnya pada bulan Rajab, sebagaimana
yang dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani
dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi. Benar, bulan Rajab
adalah bulan yang agung dan mulia, tetapi kita
tidak mendapatkan hadits shahih tentang rincian
amalan khusus pada bulan Rajab. Wallahu A’lam
Rabu, 08 Januari 2014
RAHASA SUKSES
Rahasia kesuksesan Abdurrahman bin A'uf.
Dalam setiap pembahasan
bisnis Islam tidak pernah
lepas dari nama Abdurrahman
bin Auf. Karena di
diri beliau dapat dilihat karakter
pebisnis yang patut diteladani.
Disamping memiliki ketajaman
bisnis yang menunjukkan sisi
profesionalitasnya juga akhlak
yang merupakan cermin
kepribadian seorang muslim.
Banyak sahabat Nabi yang
berprofesi sebagai pebisnis,
khususnya menjadi pedagang.
Salah satunya adalah
Abdurrahman bin ‘Auf, ia hijrah
meninggalkan kampungnya di
Makkah menuju ke Madinah
dengan tidak membawa apapun dari harta yang dimilikinya. Di
Madinah, ia dipersaudarakan
oleh Rasulullah SAW dengan
Sa’ad bin Ar Rabi Al-Anshari, beliau juga ditawari separo harta dan salah seorang dari 2 istri Sa'ad bin Ar Rabi,
Mendapat tawaran yang
menggiurkan tersebut,
Aburrahman bin Auf menolak
dengan santun, kemudian
menjawab : "Semoga Allah
memberkati anda, isteri dan
harta anda. Tapi saya ini
seorang pedagang, maka
tunjukkan saja kepadaku
dimana tempat perniagaan
(pasar) yang paling dekat agar
aku bisa berniaga..?”
Setelah mengetahui tempat
dimana ia dapat berbisnis, ia
berupaya mencari karunia Allah
sampai akhirnya bisnis yang
dirintisnya berkembang
bahkan mematahkan dominasi
pengusaha-pengusaha Yahudi
serta berhasil mengumpulkan
kekayaan dalam jumlah yang
sangat besar.
Keberhasilan bisnis
Abdurrahman yang begitu
pesat dan dalam waktu singkat
mampu mengalahkan dominasi
bisnis kaum Yahudi
karena ia selalu bermodal dan
berniaga barang yang halal dan
menjauhkan diri dari perbuatan
haram bahkan yang syubhat.
Sementara kejayaan yang
diperolehnya merupakan
berkat dari kedermawanannya
kepada sesama. Dengan kata
lain, laba dari bisnis yang
dilakukan Abdurrahman
semata-mata bukan untuk
Abdurrahman sendiri, tapi di
dalamnya terdapat bagian Allah
yang dipenuhi dengan setepat-
tepatnya oleh Abdurrahman,
yang digunakan untuk
memperkokoh silaturrahim,
membiayai keluarga dan sanak
famili, serta menyediakan
perlengkapan yang diperlukan
oleh tentara Islam dalam
menegakkan panji-panji
kebesaran Islam.
Sebagai pebisnis yang kaya,
Abdurrahman mensyukurinya
dengan memberikan sedekah,
santunan dan membantu
sesama. Hal ini sesuai dengan
petunjuk Rasulullah, yang
menyatakan bahwa: "Wahai
ibnu 'Auf, Anda termasuh
golongan orang kaya dan anda
akan masuk surga secara
perlahan-lahan. Maka
Pinjamkanlah kekayaan itu
kepada Allah, pasti Allah
mempermudah langkahmu.”
Setelah mendengar sabda
Rasulullah SAW ini, maka
kedermawanannya semakin
besar. Tidak terhitung lagi
berapa banyak hartanya yang
dibelanjakan di jalan Allah SWT.
Beberapa riwayat
menyebutkan bahwa :
Abdurrahman bin Auf pernah
bersedekah 40,000 dinar, 1
dinar sama dengan 4,25 gr
emas, jadi uang itu setara
dengan 170 kg emas murni.
Jika dikonversikan dengan
uang rupiah hari ini, mungkin
setara dengan 25-35 miliar
rupiah.
Abdurrahman bin
Auf pernah
menjual kebun
seharga 400,000
dinar untuk
membiayai
kehidupan para
istri Nabi dan para
fakir miskin.
Abdurrahman bin
Auf pernah
menyumbangkan
500 ekor kuda,
kemudian 1.000
ekor kuda dan
1.500 kendaraan,
serta 1.000 dinar
untuk jihad fi
sabilillah.
Abdurrahman bin
Auf pernah
membebaskan
30,000 rumah
untuk penduduk
madinah dan
menyantuni
veteran perang
badar masing-
masing senilai 400
dinar, bahkan
Usman bin Affan
yang terkenal kaya
juga menerima
santunan tersebut.
Seluruh penduduk
Madinah pernah
berserikat dengan
Abdurrahman bin
'Auf pada
hartanya. 1/3
dipinjamkannya
kepada mereka,
1/3 lagi
dipergunakannya
untuk membayar
hutang-hutang
mereka, dan 1/3
sisanya diberikan
dan dibagi-
bagikannya
kepada mereka.
Fakta-fakta di atas
menunjukkan kesuksesan besar
yang dialami Abdurrahman bin
'Auf dari sisi bisnis. Kesuksesan
ini tidak untuk dirinya sendiri,
karena jumlah yang
disedekahkan jauh lebih
banyak dibanding yang
dinikmati sendiri olehnya. Ini
sebagai bukti syukurnya atas
nikmat berlimpah yang
diberikan oleh Allah SWT.
Sehingga Allah selalu memberi
kemudahan baginya untuk
mendapatkan rezeki. Dan inilah
kekuatan sedekah, yang
menjadi bukti kebenaran Sabda
Rasulullah SAW: “Harta tak akan
berkurang dengan
disedekahkan.” (HR Muslim).
Hadis Rasulullah ini
mengandung pengertian
bahwa harta yang
disedekahkan tidak akan
berkurang secara maknawi,
juga secara hakiki. Allah akan
memberi pahala di akhirat dan
melipatgandakannya, sehingga
hartanya tidak hilang, bahkan
berlipat ganda. Sedekah seakan
menjadi penyerap yang kuat
untuk menghadirkan rezeki.
Langganan:
Postingan (Atom)